Publikasi

Batik Satrio, Sebuah Eksistensi Batik Banyuwangi Hingga Mancanegara

22 August 2017 305 views

Sebagai warisan budaya Indonesia dan diakui sejak 8 tahun lalu oleh UNESCO, batik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun batk sendiri telah menjadi bagian dari budaya Indonesia. 

Salah satu penghasil batik yaitu daerah Banyuwangi, kabupaten paling timur di pulau Jawa memiliki nasabah PNM. Salah satunya adalah Nanang Supriyono selaku pemilik Batik Satrio. Toko produksi batiknya telah memiliki Standar Nasional Indonesia untuk batik miliknya.

Ditemui pada tempat workshopnya, Pak Nanang bercerita bagaimana beliau memulai usaha batik Banyuwangi setelah usaha kain-kain pantai di Bali miiknya bangkrut.

Lalu saat kembali ke kampung halaman, Ia menjadi salah satu nasabah PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Nanang pun menerima pinjaman modalnya melalui Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM). Ia mendapatkan uang pinjaman cukup sebesar Rp 50 juta.

ULaMM merupakan salah satu program PNM yang mendukung dalam memberikan pinjaman modal kepada usaha kecil dan menengah. Selain pinjaman dana, PNM memberikan pendampingan dan bimbingan untuk nasabah dalam mengembangkan bisnis. Menurut Nanang, pendampingan dan bimbingan yang diberikan cukup membantu seperti ilmu pemasaran, cara mendapatkan sertifikat SNI, hingga diikutsertakan dalam acara studi banding ke Thailand.

Dari awalnya sentra produksi di belakang rumah, kini Batik Satrio terus berkembang. sentra produksi miliknya telah memproduksi batik tulis, bati cap, dan batik colet dengan motif-motif khas. Contohnya motif gajah eling yang memiliki arti filosofis yaitu gajah melambangkan kekuatan besar dan eling yang berarti kata ingat. Bila digabungkan akan memiliki makna bahwa pemakai batik akan selalu mengingat kepada Sang Pencipta Yang Maha Besar.

Dalam mempromosikan batik miliknya di Banyuwangi, batik hasil produksinya dipakai oleh instansi dan sekolah sebagai seragam. Sementara pembeli retail yang terletak di Pasar Seneporejo, Siliragung, dan Banyuwangi dinilai sebesar Rp 100.000,- hingga 6 juta rupiah. Para pembelinya pun adalah para wisatawan.

Sentra produksi miliknya tidak hanya melayani permintaan daerah Jawa, namun batiknya telah dikirim keluar Banyuwangi seperti Sulawesi, Jakarta, Bandung, dan Kalimantan. Sementara pasar luar negeri yang telah dirambah adalah negara Perancis, Italia, dan Haiti.

Satrio tidak menjelaskan jumlah omzet hasil penjualan batik, namun perkembangan batik Satrio cukup baik melihat terdapat dua sentra produksi yang menghasilkan 50 kain per hari. Saat ini Satrio sedang melakukan penambbahan modal kepada PNM sebesar 600 juta. Modal ini naik dari 1500 juta dan sekitar 400 juta, sebab bisnisnya berkembang juga bersamaan dengan dia membuka rumah makan khas Banyuwangi.

Keberhasilan Batik Satrio tidak menjadi keuntungan bagi Nanang namun keberadaan sentra produksi ini membuka lapangan kerja produksi batik. Nanang membentuk tiga kelompok pembatik terdiri dari 10 orang yang bekerja di rumah masing-masing

___

Sumber & Gambar

Download PNMagz