Jakarta , 02 July 2025

Lewat Peran Ketua Kelompok Mekaar, PNM Wujudkan Pemberdayaan Komunitas

Lewat Peran Ketua Kelompok Mekaar, PNM Wujudkan Pemberdayaan Komunitas

Jakarta, 2 Juli 2025 (updated 09 June 2026) – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) terus berkomitmen dalam memberdayakan perempuan prasejahtera melalui pendekatan menyeluruh yang tidak hanya fokus pada pembiayaan, tetapi juga pendampingan nyata melalui program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU). Salah satu program pelatihannya adalah Membina dan Memberdaya (Mba Maya), di mana PNM mendorong lahirnya agen-agen perubahan dari desa, melalui peran ketua kelompok nasabah PNM Mekaar.

Sejak diluncurkan pada 2016 melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (PNM Mekaar), PNM hadir sebagai solusi pembiayaan sekaligus pendampingan bagi perempuan pelaku usaha ultra mikro. Kini, PNM telah hadir di 6.165 kecamatan di seluruh Indonesia. Di berbagai daerah dengan latar belakang budaya dan kondisi ekonomi yang beragam, para ketua kelompok hadir sebagai sosok inspiratif. Mereka bukan hanya sesama nasabah, tetapi juga menjadi panutan yang membantu anggota kelompok lainnya untuk saling mendukung, belajar, dan tumbuh bersama.

Lebih dari Sekadar Pembiayaan: Pendampingan yang Menyeluruh

PNM memahami bahwa pemberdayaan tidak cukup hanya dengan pemberian modal. Para ketua kelompok dibekali pelatihan pengembangan diri seperti keterampilan komunikasi dan kepemimpinan, agar mampu menciptakan suasana kelompok yang positif dan produktif. Melalui program Mba Maya, para ketua kelompok memperoleh pembekalan strategi tata kelola kelompok yang efektif, sehingga mereka tidak hanya mampu mengurus administrasi kelompok, tetapi juga menjadi penggerak solidaritas sosial dan pendamping nyata bagi perkembangan usaha setiap anggotanya.

Pelatihan ini menjadikan ketua kelompok memiliki kapasitas untuk memotivasi anggota, memperkuat ikatan sosial, serta mendorong anggota mengambil keputusan usaha secara mandiri. Mereka juga difasilitasi mengikuti studi banding ke berbagai daerah untuk memperluas wawasan, membangun jejaring, serta mendapatkan inspirasi baru dalam mengembangkan usaha.

Dampaknya pun terasa nyata. Penelitian Fisipol UGM (2022) mencatat bahwa sebanyak 71,86 persen nasabah PNM mulai berkontribusi dalam pengambilan keputusan keluarga, termasuk dalam urusan keuangan, pendidikan, dan kebutuhan rumah tangga. Angka ini menunjukkan bagaimana program pendampingan PNM tidak hanya menguatkan usaha, tetapi juga mengangkat derajat perempuan sebagai pengambil keputusan di dalam keluarganya.

Ekosistem Pemberdayaan: Kampung Madani PNM

Pendekatan PNM tidak berhenti pada level kelompok. Melalui program Kampung Madani PNM, PNM merancang ekosistem masyarakat yang saling menguatkan, bukan sekadar mencetak pelaku usaha tangguh. Di dalam ekosistem ini, para ketua kelompok berperan sebagai lokomotif perubahan yang menggerakkan seluruh anggota dan komunitas sekitarnya.

Salah satu contoh nyata hadir dari Ibu Sri Kartini, nasabah PNM Mekaar yang juga menjadi Ketua Kelompok dan penggerak komunitas di Kampung Madani PNM Magelang. Berangkat dari usaha batik rumahan yang sederhana, Ibu Sri kini memimpin kelompok beranggotakan 30 orang. Tujuh di antaranya aktif memproduksi batik melalui program Klasterisasi Batik di Kampung Madani PNM, sementara 23 anggota lainnya menjalankan berbagai usaha kecil seperti kuliner, kerajinan, dan jasa rumah tangga.

Namun kontribusi Ibu Sri tidak berhenti di situ. Ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) di desanya. Di bawah kepemimpinannya, hasil panen sayur dari lahan kelompok secara rutin dibagikan kepada warga desa yang membutuhkan. Kisah Ibu Sri membuktikan bahwa pemberdayaan yang sejati bukan hanya soal usaha, tetapi juga soal berbagi hasil dan membangun komunitas yang lebih kuat.

Kisah Inspiratif: Dari PHK Menuju Batik Bumi Ku

Semangat yang sama juga terpancar dari Ibu Gumi Indang Siswati, pengusaha batik pewarna alam asal Bogor yang kini mengembangkan "Batik Bumi Ku". Perjalanannya dimulai dari titik yang tidak mudah. Sejak awal 2017, setelah mengalami PHK dari pekerjaannya, Ibu Gumi tidak menyerah pada keadaan. Beliau memilih untuk mendalami pelatihan membatik selama satu tahun penuh, hingga akhirnya memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan dukungan pembiayaan dan pendampingan dari PNM.

Kini, "Batik Bumi Ku" telah tumbuh menjadi usaha yang dikenal luas. Ibu Gumi aktif mengajar batik ke sekolah-sekolah di Bogor dan sering menerima kunjungan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ingin belajar membatik di rumah batiknya. Perannya sebagai ketua kelompok pun membawanya melangkah lebih jauh.

"Saya berterima kasih kepada PNM Mekaar karena diberi kesempatan untuk menjadi narasumber dalam Program PKU, agar saya bisa berbagi ilmu kepada nasabah Mekaar lainnya yang ingin mengembangkan usaha batik khas Bogor. Selain itu, saya juga mendapat kesempatan mengikuti program studi banding ke Padang bersama PNM," ujar Ibu Gumi.

Kisah Ibu Gumi adalah cerminan dari bagaimana PNM membangun siklus pemberdayaan yang berkelanjutan: nasabah yang berhasil didorong untuk menjadi inspirasi dan penggerak bagi nasabah lainnya, menciptakan ekosistem belajar dan tumbuh yang terus berputar dari satu komunitas ke komunitas berikutnya.

Kepemimpinan Lokal sebagai Kunci Perubahan Sosial

Dalam konteks yang lebih luas, pola pemberdayaan yang dijalankan PNM menempatkan perempuan bukan hanya sebagai penerima fasilitas ekonomi, tetapi juga sebagai aktor penggerak perubahan dalam keluarga dan komunitasnya. Akses pembiayaan yang diterima nasabah menjadi sumber daya, pelatihan dan pendampingan menjadi bekal kemandirian, sementara peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi keluarga serta meningkatnya peran perempuan dalam keputusan rumah tangga menjadi hasil nyata yang dirasakan langsung.

"Perempuan saat ini memiliki peran yang sangat penting pada ketahanan ekonomi keluarga. Dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat oleh perempuan di rumah, melalui literasi keuangan, perempuan bukan sekadar bagian dari populasi, tetapi juga aktor utama dalam penguatan ekonomi keluarga," demikian semangat yang sejalan dengan visi pemberdayaan PNM.

Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menegaskan pentingnya peran ketua kelompok dalam keseluruhan ekosistem pemberdayaan ini. "PNM tidak hanya memberikan pembiayaan, tetapi juga memberikan pendampingan yang menyeluruh. Kami percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal sederhana di desa, melalui kegiatan kelompok yang saling menguatkan. Ketua kelompok memiliki peran penting dalam proses ini. Mereka kami dampingi agar bisa tumbuh bersama dan menjadi contoh yang menggerakkan di lingkungannya," ujar Dodot.

Lebih jauh, Dodot menekankan bahwa pemberdayaan yang sejati selalu bermula dari akar rumput. "Kami percaya, pemberdayaan yang sejati dimulai dari akar rumput. Peran Ketua Kelompok Mekaar adalah wujud nyata bagaimana kepemimpinan lokal bisa membawa dampak besar bagi komunitas."

Bersama Tumbuh, Bersama Menginspirasi

PNM akan terus tumbuh, peduli, dan menginspirasi masyarakat desa melalui pemberdayaan yang nyata. Kombinasi antara akses modal, pelatihan kepemimpinan, pendampingan usaha, dan kesempatan berbagi pengalaman melalui studi banding menjadikan program PNM Mekaar bukan sekadar skema pembiayaan, melainkan gerakan pemberdayaan yang mengakar kuat di masyarakat.

Bersama para ketua kelompok, PNM percaya bahwa setiap langkah kecil yang diberdayakan dengan tepat akan membawa perubahan besar menguatkan ekonomi keluarga, membuka akses pengetahuan, dan menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih sejahtera. Karena pemberdayaan yang sesungguhnya bukan sekadar narasi, melainkan gerakan nyata dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

#PNMuntukUMKM #PNMPemberdayaanUMKM #PNMPemberdayaanPerempuan