5 Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga agar Tidak Boros

Uang yang diberikan suami untuk kebutuhan rumah tangga sering sekali cepat habis, padahal masih jauh dari akhir bulan?
Kalau kondisi tersebut sering terjadi, mungkin bisa coba perhatikan kembali cara kamu mengatur uang sehari-hari. Apakah kamu sudah mencatat pemasukan dan pengeluaran, menentukan kebutuhan yang perlu didahulukan, serta membagi uang sesuai dengan kebutuhan keluarga?
Yuk, pelajari cara mengatur keuangan rumah tangga dengan penghasilan terbatas melalui artikel ini!
Dengan mengetahui cara mengelola keuangan yang tepat, kamu bisa menggunakan penghasilan yang ada untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan lebih teratur.
Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga Sehari-hari
Berikut beberapa cara mengatur keuangan rumah tangga sehari-hari yang bisa kamu ikuti, mulai dari mencatat semua pemasukan dan pengeluaran, dahulukan kebutuhan pokok, bagi uang sesuai kebutuhan, kurangi pengeluaran yang masih bisa ditunda, hingga menyisihkan uang untuk dana cadangan.
Catat Semua Pemasukan dan Pengeluaran
Mulai dengan mencatat berapa uang yang diberikan suami untuk kebutuhan rumah tangga setiap bulan. Setelah itu, catat semua pengeluaran sehari-hari, mulai dari belanja dapur, uang jajan anak, pulsa, ongkos, hingga kebutuhan kecil lainnya.
Jangan hanya mencatat pengeluaran dalam jumlah besar. Pengeluaran kecil juga perlu diperhatikan karena jika dikumpulkan selama sebulan, jumlahnya bisa cukup besar.
Misalnya, kamu mengeluarkan Rp5.000 untuk jajan anak setiap hari. Dalam 30 hari, jumlahnya bisa mencapai Rp150.000. Dengan mencatat pengeluaran, kamu bisa mengetahui ke mana saja uang rumah tangga digunakan dan melihat bagian mana yang masih bisa dikurangi.
Dahulukan Kebutuhan Pokok
Setelah mengetahui jumlah uang yang tersedia, tentukan kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi lebih dulu. Prioritaskan kebutuhan yang penting dan tidak bisa ditunda, seperti:
- Beras, lauk, minyak, dan kebutuhan dapur lainnya.
- Listrik atau token.
- Air.
- Ongkos kerja dan sekolah.
- Kebutuhan anak, seperti susu, perlengkapan sekolah, atau obat.
Setelah kebutuhan utama terpenuhi, kamu bisa lihat apakah masih ada sisa uang untuk kebutuhan lainnya. Dengan begitu, uang yang tersedia tidak habis lebih dulu untuk pengeluaran yang sebenarnya masih bisa ditunda.
Baca juga: 17 Ide Usaha di Kampung Beserta Tips Memulai Usahanya
Bagi Uang Sesuai Kebutuhan
Setelah menentukan kebutuhan yang harus didahulukan, bagi uang yang diberikan suami ke beberapa bagian sesuai kebutuhan keluarga. Misalnya, pisahkan uang untuk belanja dapur, listrik, transportasi, kebutuhan anak, dan dana cadangan.
Kalau kamu lebih nyaman menggunakan uang tunai, kamu bisa mencoba sistem amplop. Beri nama setiap amplop sesuai kebutuhannya, lalu gunakan uang di dalamnya untuk keperluan tersebut.
Misalnya, uang untuk membayar listrik sudah dipisahkan sejak awal. Ketika uang belanja dapur mulai menipis, jangan langsung mengambil uang untuk listrik. Kamu bisa menyesuaikan belanja dengan sisa uang yang ada, misalnya memilih bahan makanan yang lebih terjangkau.
Kurangi Pengeluaran yang Masih Bisa Ditunda
Setelah kebutuhan utama terpenuhi, coba periksa kembali pengeluaran yang masih bisa dikurangi atau ditunda. Misalnya, terlalu sering membeli makanan di luar, membeli barang yang belum dibutuhkan, atau menggunakan paket internet yang lebih besar dari kebutuhan.
Sebelum membeli sesuatu, pertimbangkan apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau masih bisa ditunda. Kebutuhan sekolah anak, misalnya, perlu didahulukan daripada membeli pakaian baru ketika pakaian yang ada masih cukup.
Kamu juga bisa memilih barang dengan harga yang lebih terjangkau selama manfaatnya tetap sesuai. Tujuannya bukan mengurangi kebutuhan penting, tetapi menggunakan uang yang diberikan suami untuk kebutuhan yang paling utama.
Sisihkan Uang untuk Dana Cadangan
Jika masih ada sisa uang setelah kebutuhan utama terpenuhi, kamu bisa menyisihkan sebagian dari uang tersebut untuk dana cadangan. Uang ini bisa kamu gunakan saat ada kebutuhan yang tidak direncanakan, seperti biaya berobat atau kendaraan yang tiba-tiba perlu diperbaiki.
Simpan dana tersebut secara terpisah dari uang belanja sehari-hari agar tidak mudah terpakai. Ketika ada kebutuhan mendadak, kamu bisa menggunakannya tanpa mengurangi uang yang sudah dialokasikan untuk kebutuhan rumah tangga.
Contoh Cara Mengatur Keuangan Rumah Tangga dalam Sebulan
Supaya lebih mudah dibayangkan, mari kita gunakan contoh kebutuhan rumah tangga selama satu bulan keluarga Bu Lina.
Misalnya, Bu Lina adalah ibu rumah tangga dengan suami dan satu anak. Suaminya mendapat penghasilan Rp3.500.000 per bulan. Dari jumlah tersebut, sebagian digunakan untuk kebutuhan suami selama bekerja, sedangkan sisanya dikelola untuk kebutuhan rumah tangga.
Bu Lina kemudian membagi uang tersebut berdasarkan kebutuhan yang harus dipenuhi setiap bulan:
Kebutuhan | Alokasi | Contoh Penggunaan |
Belanja dapur | Rp1.000.000 | Beras, telur, minyak, lauk, sayur, bumbu |
Listrik dan air | Rp300.000 | Token listrik dan tagihan air |
Kebutuhan anak | Rp400.000 | Uang sekolah, jajanan, perlengkapan sekolah |
Transportasi suami | Rp500.000 | Ongkos atau bensin untuk bekerja |
Pulsa dan internet | Rp200.000 | Paket internet dan komunikasi |
Kebutuhan rumah tangga | Rp250.000 | Gas, sabun, deterjen, dan kebutuhan rumah lainnya |
Kebutuhan pribadi suami | Rp250.000 | Makan atau kebutuhan pribadi selama bekerja |
Dana cadangan | Rp200.000 | Disimpan untuk kebutuhan mendadak |
Kebutuhan lain | Rp400.000 | Keperluan keluarga yang tidak muncul setiap bulan |
Total | Rp3.500.000 |
Dengan pembagian seperti ini, Bu Lina bisa mengetahui sejak awal berapa uang yang tersedia untuk setiap kebutuhan. Misalnya, uang belanja dapur Rp1 juta berarti rata-rata sekitar Rp33.000 per hari. Jika pada minggu pertama pengeluaran sudah terlalu besar, Bu Lina bisa menyesuaikan belanja pada minggu berikutnya agar uang tetap cukup sampai akhir bulan.
Baca juga: 11 Daftar Usaha Rumahan yang Menjanjikan Beserta Tips Memulainya
Solusi Jika Penghasilan Masih Belum Cukup Setelah Mengatur Keuangan
Jika kamu sudah mencatat pengeluaran dan mengurangi belanja yang tidak terlalu penting, tetapi uang masih belum cukup, berikut beberapa hal yang bisa kamu terapkan lagi ke depannya:
1. Evaluasi Kembali Pengeluaran
Periksa catatan pengeluaran di akhir bulan. Lihat bagian mana yang paling banyak menghabiskan uang dan apakah masih ada yang bisa dikurangi.
Misalnya, pengeluaran untuk jajan cukup besar. Kamu bisa mengurangi frekuensinya atau menyiapkan makanan dari rumah. Kalau biaya transportasi cukup tinggi, kamu bisa melihat apakah ada perjalanan yang dapat dikurangi.
Lakukan pengecekan ini setiap bulan. Dari catatan tersebut, kamu bisa mengetahui kebiasaan belanja dan menyesuaikan anggaran untuk bulan berikutnya.
2. Pertimbangkan Tambahan Penghasilan
Kalau pengeluaran sudah ditekan tetapi uang yang tersedia tetap belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kamu perlu mempertimbangkan cara untuk menambah penghasilan.
Sebagai ibu rumah tangga, kamu bisa memilih kegiatan yang bisa dilakukan dari rumah dan disesuaikan dengan waktu serta kemampuan yang kamu punya.
Misalnya, mencoba usaha jualan gorengan, kue, minuman, atau toko kelontong kecil-kecilan. Beberapa usaha tersebut bisa dimulai dengan modal yang relatif kecil, jadi kamu bisa memilih usaha yang sesuai dengan kemampuan modalmu dan kebutuhan orang di sekitar rumah agar tidak mengganggu uang untuk kebutuhan keluarga.
Kalau kamu ingin belajar lebih jauh tentang cara memulai atau mengelola usaha yang akan kamu bangun untuk menambah penghasilan, kamu bisa mengikuti Program Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) dari PNM.
PT Permodalan Nasional Madani (Persero) adalah lembaga keuangan nonbank milik negara yang menyediakan pembiayaan serta pendampingan bagi pengusaha UMKM.
Sejalan dengan campaign Melayani Sepenuh Hati, PNM menghadirkan pelatihan PKU yang mencakup literasi keuangan, usaha, dan digital. Pengetahuan tersebut dapat membantu kamu memahami cara mengelola keuangan usaha, memasarkan produk, hingga mengembangkan usaha secara bertahap.
Jadi, jika kamu menjadi nasabah PNM Mekaar atau PNM ULaMM, kamu tidak hanya mendapatkan akses pembiayaan sesuai ketentuan yang berlaku, tetapi juga pendampingan dan pelatihan untuk membantu kamu mengelola usaha dengan lebih baik.
Perlu diingat, PNM tidak menyediakan pinjaman online melalui aplikasi maupun website. Seluruh proses pengajuan pembiayaan dilakukan secara langsung melalui kantor cabang PNM.
Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai pembiayaan dan program pendampingan PNM, kamu bisa mengunjungi website resmi PNM atau menghubungi call center PNM di 1500-654.
Baca juga: PNM Mekaarpreneur, Membuka Jalan Pengusaha Ultra Mikro Menuju Pasar Lebih Luas

Perempuan Tangguh | 28 Oct 2026
Dana Darurat Usaha: Ini Fungsi dan Bedanya dengan Tabungan


Pemberdayaan | 28 Oct 2026
Cara Budidaya Ikan Lele untuk Pemula, dari Kolam hingga Panen

Perempuan Tangguh | 28 Oct 2026
Dana Darurat Usaha: Ini Fungsi dan Bedanya dengan Tabungan


Pemberdayaan | 28 Oct 2026
